Dasar Hukum Hadhanah

Dasar Hukum Hadhanah

Firman Allah Swt. QS Al-Tahrim : 6.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS Al-Tahrim [66]: 6).

Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya wajib, sebab mengabaikannya berarti menghadapkan anak-anak yang masih kecil kepada bahaya kebinasaan. Hadhanah merupakan hak bagi anak-anak yang masih kecil, karena ia membutuhkan pengawasan, penjagaan, pelaksanaan urusannya, dan orang yang mendidiknya. Dalam kaitan ini, terutama ibunyalah yang berkewajiban melakukan hadhanah. Rosulullah Saw bersabda, yang artinya: “Engkaulah (ibu) yang berhak terhadap anaknya”.

Pendidikan yang lebih penting adalah pendidikan anak dalam pangkuan orang tuanya, karena dengan adanya pengawasan dan perlakuan akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan jiwanya, serta mempersiakan diri anak dalam menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang. [5]

  1. Yang Berhak Melakukan Hadhanah

Orang yang melakukan hadhanah haruslah mempunyai rasa kasih sayang, kesabaran, dan mempunyai keinginan agar anak itu menjadi baik (shaleh) dikemudian hari. Disamping itu, ia juga harus mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tugas itu. Dan orang yang memiliki syarat-syarat itu adalah seorang wanita. Sebagaimana disebutkan dalam hadist:

“Dari Abdullah bin Umar bahwasanya seorang wanita berkata:”Ya Rasulullah, bahwasanya anakku ini perutkulah yang mengandungnya, yang mengasuhnya, yang mengawasinya, dan air susukulah yang diminumnya. Bapaknya hendak mengambilnya dariku.” Maka, berkatalah  Rosulullah:”Eangkaulah lebih berhak atasnya (anak itu) selama engkau belum nikah (dengan laki-laki yang lain).

.هَا لِدِ بِوَ أَحَقُّ هِىَ وَ فُ أَرْاوَ خْيَرُ وَا  حْنَىاوَ  حَمُ وَارْ  الْطَفُ وَ أَعْطَفُ  مَّ أَلاُ

“Ibu lebih lembut (kepada anak), lebih halus, lebih pemurah, lebih baik, dan lebih penyayang. Ia lebih berhak atas anaknya (selama ia belum kawin dengan laki-laki lain).”

 

RECENT POSTS