Dominee menjawab, “Tidak.”

Dominee menjawab, “Tidak.”

Dominee menjawab, “Tidak.”

Tetapi, saya melanjutkan, “Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta Anda untuk membaca atau mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan; yaitu:

“Katakanlah, ‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?” Dominee tentu saja setuju.

Dengan cara yang sama, saya berkata; “Kata-kata kitab suci Al-Qur’ an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad diungkapkan.”

Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu ber-usia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan (dalam buku aslinya yang berbahasa Inggris di-tulis: “malam ke 27 bulan Ramadhan”). Dalam gua malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya:

“‘Baca!” atau ‘nyatakan!’ atau ‘bawakan!”‘ Muhammad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab:

“Saya tak dapat membaca!” Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ke-tiga kalinya malaikat melanjutkan.

Barulah Muhammad mengerti apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi untuk berlatih. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah YangMaha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Ini semua adalah ayat pertama yang diwahyukan kepada Muhammad, yang sekarang merupakan permulaan surat ke 96 (Al-‘Alaq) dari Al-Qur’an.
Kesaksian Orang-orang Yang Beriman

Segera setelah malaikat pergi, Muhammad berlari ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya memandanginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menjelaskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengarnya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan seperti itu terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu? Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menuju istrinya? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran –Al Amin– yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya.

Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatatnya pada daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan pada diskusi, “Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” (Injil – Ulangan 18: 18)
Nabi Yang Ummi

Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, kemudian dikenal sebagai Jabal Nur, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: “Dan apabila kitab itu” (Al-kitab, Al-Qur’an – ‘pembacaan’, ‘pembawaan’) “diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca” Nabi yang ummi, Al Qur’an surat Al-A’raf ayat 158, dengan mengatakan, “Baiklah baca ini, Saya berdo’a untuk kamu” (Kalimat: “Saya berdo’a untuk kamu” tidak ada dalam naskah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma “versi Douay” dan juga dengan “versi standar yang sudah direvisi”, Revised Standard Version) “Dan ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” “Aku tidak dapat membaca!” adalah terjemahan yang tepat dari kata-kata yang diucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan (“Baca!”).

Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tanpa terpotong seperti pada “versi King James” atau “versi yang telah disahkan” yang lebih terkenal: “Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, ‘Baiklah baca ini, saya berdo’a untuk kamu’, maka ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” (Injil – Yesaya 29: 12)

Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berbahasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda’wah. Disamping itu beliau benar-benar tidak dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah penciptanya:

“Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ” (QS. An-Najm: 3-5)

Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia mem-buat malu orang-orang yang berpengetahuan.
Peringatan Penting

“Perhatikan!” Saya berkata kepada Dominee, “Bagaimana ramalan tersebut cocok sekali dengan Muhammad. Kami tak perlu menjabarkan ramalan agar terpenuhi dalam diri Muhammad.”

Dominee membalas, “Semua penjelasan Anda terdengar sangat baik, tetapi itu semua tidak mempunyai konsekuensi yang nyata, karena kami umat Kristen memiliki Yesus Kristus sebagai reinkarnasi Tuhan, yang menyelamatkan kami dari perbudakan dosa!”

Sumber : https://forbeslux.co.id/