kasus anak khusus

kasus anak khusus

kasus anak khusu

kasus anak khusu

Sudah lama muncul pertanyaan di antara kami di Semi Palar. Kenapa akhir-akhir ini semakin banyak bermunculan anak-anak ‘bermasalah’? Mulai yang kesulitan belajar, tidak bisa berkonsentrasi sampai ke kasus-kasus anak berkebutuhan khusus? Dalam waktu singkat sejak kita merintis Rumah Belajar Semi Palar, seakan-akan dengan mudah kami bertemu dengan anak-anak yang disebutkan sebagai anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang tumbuh berkembang dengan gangguan atau keterhambatan tertentu. Anak-anak yang disebutkan termasuk anak yang ‘mengidap’ ASD (Autistic Spectrum Disorder) – salah satu dari sekian luasnya spektrum autisme, ADD, ADHD atau banyak lagi istilah lainnya. Atau banyak juga anak-anak yang tidak bisa fit-in di sekolah umum. Singkatnya anak-anak yang harus mendapat perhatian dan penanganan khusus dari kita orang dewasa, guru dan orang tua. Kenapa? Itu pertanyaan utamanya.

Dari pengalaman lain sebelum Semi Palar, melalui banyak dialog pembicaraan dengan beberapa teman dan kenalan, beberapa hal seakan mendorong kami ke arah sebuah kesimpulan, bahwa ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita semua saat kita membesarkan anak-anak kita. Ataukah ini memang pertanda kita mulai lupa terhadap sempurnanya ciptaan Tuhan. Apakah kita mulai tinggi hati dengan segala kecerdasan dan intelektualitas kita manusia? Mungkin demikian? Tapi apapun itu, mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu kita masing-masing untuk merefleksi dan menilai kembali apa-apa yang selama ini, sedang dan akan kita lakukan, terutama dalam membesarkan anak-anak kita, titipan Tuhan kepada kita.

Pertama-tama, jangan-jangan kita lupa bahwa anak adalah anugerah karunia Sang Pencipta yang luar biasa, yang seharusnya diberikan kepada kita pada waktu yang tepat menurutNya. Tapi sekarang kita sebagai manusia, dengan kemajuan luar biasa di bidang pengetahuan dan teknologi medis, seakan-akan sudah mampu memby-pass kebijakan – kebesaran Tuhan… Di tahun 2000, yang menurut tradisi China adalah tahun Naga Emas, kita tahu betapa banyak pasangan orang tua yang berusaha mendapatkan anak. Banyak di antara mereka yang minta ‘diprogram’ kehamilannya oleh dokter baik melalui diet, obat-obatan, hormon dan berbagai metoda, walaupun diantaranya tidak sedikit yang sudah lebih dahulu hamil untuk melahirkan bayinya di tahun Naga Emas tersebut…

Apa yang terjadi? Sekian banyak bayi-bayi tersebut sekarang ini di tahun 2004-2005, mendadak kasus masalah bawaan pada anak mendadak mencuat, karena anak-anak itu sekarang ada pada usia sekolah. Sebelumnya, saat belum berdampingan dengan anak-anak sebaya, orang tua kurang memperhatikan ‘perbedaan’ yang ada dan sekedar melihat bahwa anaknya toh masih kecil atau belum mengerti. Saat masuk lingkungan sekolah, permasalahan bawaan yang banyak dikenal dengan autisme, hiperaktifitas, atau istilah sederhananya anak kita nakal, begitu banyak kita jumpai.

Kasus lain yang kita amati adalah banyaknya anak yang membawa masalah perkembangan karena melampaui tahapan merangkak. Tahapan ini ternyata sangat penting saat bagi perkembangan jaringan syaraf anak termasuk menjadi kuatnya tulang belakang dan banyak lagi lainnya. Anak tidak merangkak bisa karena banyak sebab karena terlalu banyak ditinggalkan di box atau dibiarkan berkeliaran di dalam ‘baby walker’ yang sekarang model dan desainnya begitu menariknya bagi orang tua. Persepsi orang tua yang merasa bahwa ‘wah anakku hebat bisa langsung jalan’ apalagi dalam usia muda ternyata dibarengi potensi masalah bawaan di tahapan selanjutnya. Saat anak merangkak, saat anak jatuh tersungkur atau jatuh terduduk, saat belajar menempatkan satu tangan kedepan berbarengan dengan kaki belakang maju bergantian, pada saat itulah koordinasi sensori dan syaraf-syaraf anak dibangun. Belum lagi bagaimana tulang belakang anak dilatih untuk mampu mendukung beban tubuh anak, menahan kepala tegak ke atas sebelum akhirnya anak belajar berdiri. Proses ini adalah luar biasa berharga…

Selanjutnya setelah anak bisa berdiri, dan mencoba melangkah, orang tua modern cenderung melindungi seluruh tubuh anaknya, terutama kaki dengan sepatu-sepatu rancangan terbaru dengan ganjel-ganjel di telapak kaki ala Nike Air… Alas kaki serba tebal, model-model serba lucu dan menggemaskan ditambah ketakutan orang tua akan kekotoran, cacing, permukaan lantai yang kasar, takut kedinginan dll, mendorong orang tua untuk membungkus kaki anaknya yang ‘sangat berharga’ dengan alas-alas kaki yang serba canggih. Padahal, saat anak belajar melangkah, jaringan saraf-saraf seluruh tubuh dibangun koneksinya pada setiap langkah yang dijejakkan anak melalui permukaan lantai yang bervariasi. Pada setiap langkah, pada permukaan lantai yang berbeda, yang kasar, halus, licin, panas, dingin, basah, kering, becek, berbutir… Pada saat itulah syaraf anak dibangun…

Kalau kita ingat pijat refleksi, seluruh organ tubuh kita punya hubungan syaraf di telapak kaki, sehingga terapi ke sebuah bagian tubuh bisa dilakukan melalui telapak kaki. Bayangkan kalau syaraf-syaraf di permukaan telapak kaki kita tidak saling terkoneksi, bagaimana akibatnya terhadap apa yang terjadi di seluruh tubuh kita.

Secara ilmiah, terkoneksinya jaringan syaraf yang berfungsi menerima input sensori (rangsang) kemudian di sampaikan ke otak dan di kembalikan ke syaraf motorik untuk menghasilkan respon tertentu oleh tubuh kita disebut Sensory Integration. Banyak kasus masalah perkembangan anak menyangkut masalah keterhambatan di Sensory Integration ini. Terapi Autisme, Hiperaktifitas, dan lain-lainnya akhirnya harus banyak melibatkan terapi SI yang sebetulnya bisa dihindarkan saat anak sewaktu bayi dibiarkan membangun keutuhan keseluruhan jaringan tubuhnya secara alamiah tanpa banyak intervensi dari luar.

Saya pernah dengar pula bahwa paksaan bagi anak untuk menulis terlalu dini (apalagi menulis sambung) berperan merusak SI ini. Perkembangan motorik anak pada usia TK adalah terutama pada motorik kasar, dan perkembangan motorik kasar akan mendukung perkembangan motorik halus. Anak yang dipaksa menulis pada saat motorik kasar belum berkembang baik mendorong tubuh anak untuk mencari kompensasi dari kondisi ini. Anak-anak yang belum siap menulis, mereka yang justru membutuhkan kegiatan fisik yang dinamis tapi dikondisikan untuk menulis, cenderung bereaksi negatif, jadi nakal, atau melawan dan lain sebagainya, sebagai reaksi stress yang diterima tubuhnya. Sekolah atau guru yang tidak paham hanya mampu mengecap anak ini sebagai anak nakal, dan untuk mengatasinya orang tua justru mencarikan guru les menulis untuk mengatasi masalah ini. Karena masalah sesungguhnya tidak diketahui, dan solusinya tidak tepat, masalah biasanya memburuk. Lebih parah lagi, anak jadi benci sekolah, benci belajar.

Satu contoh lagi, khas di Indonesia, di mana trend atau kecenderungan para ibu melahirkan melalui operasi Caesar. Entah dari mana mulainya, tapi demikianlah adanya. Sementara proses bersalin di negara-negara maju sedapat mungkin dilakukan secara normal, di Indonesia kecenderungan yang ada justru sebaliknya. Apakah ini gejala komersialisasi di kalangan medis, atau ketertinggalan pengetahuan kalangan medis Indonesia, saya tidak tahu. Sebuah penelitian sebetulnya menyimpulkan bahwa anak-anak yang dilahirkan melalui persalinan secara normal, pada saat dewasa menunjukkan kematangan emosional yang lebih baik. Karena memang proses bayi di jalan lahir, adalah proses alamiah yang luar biasa, di mana sang bayi dipersiapkan melalui perubahan-perubahan hormonal yang alamiah dan saya yakin juga melalui pertalian batin yang luar biasa antara ibu dan anak untuk menyiapkannya lahir ke dunia.

Bayi-bayi yang lahir melalui operasi Caesar, seakan direnggut keluar tanpa peduli terhadap kesiapan emosional bayi yang seharusnya dilaluinya. Dan ini banyak terjadi karena para dokter (mungkin juga para ibu) lebih memilih untuk bayi menyesuaikan kelahirannya terhadap jadwal yang diinginkan dokter atau ibu, dibandingkan dengan waktu kelahiran alamiah, saat ibu dan sang bayi sama-sama siap untuk menjalankan proses persalinan dan lahir ke dunia.

Kesimpulan umumnya, manusia modern, kita-kita ini sekarang sepertinya jadi sombong, sok tahu, dan juga tidak sabar. Kalau kita renungkan, Tuhan, yang Maha Kuasa sudah merancang segala sesuatunya dengan sempurna… termasuk untuk waktu-waktu yang tepat saat segala sesuatu seharusnya terjadi. Dan kita manusia dengan segala kesombongannya merasa bisa membuat segala sesuatu lebih baik daripadaNya. Kita menciptakan berbagai macam teori, metode, alat, obat, dan segala sesuatu dan melakukan intervensi pada proses-proses yang seharusnya berlangsung alamiah. Kita berpikir bisa membuatnya lebih baik, lebih cepat dan lain sebagainya. Manusia memang sombong, dan serba tidak sabar… Dan akhirnya kita merusak semuanya… Tulisan ini disusun tanpa sedikitpun bermaksud mendiskreditkan mereka yang kebetulan mengalami masalah-masalah di atas. Tulisan ini justru didorong oleh keprihatinan kenapa masalah-masalah ini semakin banyak ditemui. Kalau sedikit dari pembaca ikut merefleksi dan melakukan perubahan, dengan belajar kembali menempatkan proses-proses alamiah pada tempatnya; dengan demikian menghargai Penciptanya, rasanya kita akan dibantu menemukan solusi-solusinya… Mudah-mudahan.

Sumber : https://www.pressnews.biz/@theeacher/dosenpendidikan-releases-abrand-new-article-onthe-respiratory-system-of-different-animals-p43k74kja3bj