LATAR BELAKANG PERJANJIAN LINGGARJATI

LATAR BELAKANG PERJANJIAN LINGGARJATI

LATAR BELAKANG PERJANJIAN LINGGARJATI

Sejarah dari adanya perjanjian Linggarjati adalah

karena Belanda ingin menguasai kembali Indonesia. Di bawah tekanan Inggris yang kuat, Belanda akhirnya mau melakukan negoisasi dengan Belanda karena pada awalnya Belanda enggan memulai negosiasi dengan Republik Indonesia.

Van Mook sebagai gubernal jenderal Belandpun mempelajari berbagai peristiwa di Indocina Prancis untuk menemukan solusi bagi masalah Belanda yang ada di Indonesia. Van Mook ingin mengakui kedaulatan yang dimiliki oleh Republik Indonesia dan mengakui bahwa Indonesia memiliki kekuasaan de facto hanya untuk atas pulau Jawa dan Sumatra.

Pengakuan ini adalah sebagai timbal balik atas bersedianya pihak Indonesia untuk menerima negara Indonesia federal yang akan menjadi mitra dengan Kerajaan Belanda. Dalam negara Indonesia federal atau Uni Indonesia-Belanda setidaknya akan menguasai wilayah Kalimantan dan bagian timur kepulauan.

Isi yang ditawarkan dalam perjanjian Linggarjati hampir sama dengan proposal Federation Indochinoise atau Federasi Indocina dan Union Francjaise Uni Prancis yang dirancang oleh negara Perancis untuk tetap menguasai negara Vietnam.

Pada bulan Mei 1946, pemerintah koalisi Belandapun memutuskan untuk membentuk komisi jenderal untuk memulai negosiasi dengan Republik Indonesia atas proposal yang diajukan. Anggota komisi umum ini yang juga menjadi perwakilan dari perjanjian Linggarjati adalah mantan perdana Wim Schermerhorn, Max van Poll, dan Feike de Boer.

Tugas perwakilan ini adalah mengadaptasi pengaturan konstitusional untuk Hindia Belanda pascaperang tanpa melepaskan misi kekuasaan Belanda atas negara Indonesia. Perwakilan Belanda inipun kemudian berangkat ke Indonesia pada bulan November 1946 dan memulai negosiasi dengan delegasi Republik Indonesia seperti Sukarno dan Sutan Sjahrir di Linggarjati.

Negosiasi ini awalnya begitu sulit dan panjang hingga akhirnya van Mook memberikan kompromi bahwa Republik Indonesia Serikat akan menjadi negara berdaulat dan demokratis dalam Uni Belanda-Indonesia.
Negara federal ini akan berkonsentrasi pada kerja sama ekonomi dan budaya. Adapun Republik Indonesia Serikat akan memiliki tiga negara bagian yaitu Republik Indonesia, Indonesia Timur, dan Kalimantan.

Belanda hanya mengakui Republik Indonesia atas wilayah Jawa dan Sumatra saja. Sukarnopun menerima kompromi ini semata hanya untuk menghindari perang bersenjata yang panjang karena Indonesia akan kesulitan melawan Belanda,

Adapun komisi jenderal Belanda menerima kompromi ini karena kemungkinan perang yang akan dihindari akan membangun hubungan masa depan yang dekat antara Belanda dan Indonesia.

Namun ada beberapa pihak Belanda yang masih sangat menentang Perjanjian Linggarjati karena menganggap bahwa Komisi jenderal telah memberikan Hindia Belanda kepada kelompok nasionalis Indonesia yang tidak bertanggung jawab dan juga tidak dapat diandalkan dengan baik.

Pemerintah Belandapun memutuskan untuk mengubah dan menafsirkan perjanjian untuk meyakinkan bahwa Belanda akan memberi pengaruh yang besar untuk masa depan Indonesia. Menteri Belanda untuk wilayah luar negeri, J. A. Jonkman sendiri menyatakan bahwa Perjanjian Linggarjati hanya sebagai dasar untuk menegaskan kembali kekuasaan Belanda.

Adapun Partai Sosial-Demokrat dan Partai Katolik mengusulkan mosi yang menjelaskan bahwa masa depan Republik Indonesia Serikat akan menjadi bagian dari Uni Belanda-Indonesia yang berdaulat. Parlemenpun akhirnya meloloskan mosi ini dan menjadi dasar untuk isi perjanjian Linggarjati.

Sementara dalam pihak Indonesia, Sukarno sendiri menghadapi masalah sendiri dalam mendapatkan dukungan untuk menyetujui Perjanjian Linggarjati. Banyak elemen radikal di Indonesia yang didukung oleh Jenderal Sudirman begitu menentang perjanjian tersebut. Menurutnya, perjanjian ini tidak membawa kemerdekaan sepenuhnya untuk Indonesia.

Namun, Sukarno berusaha untuk meyakinkan kepada Parlemen Indonesia bahwa adanya Perjanjian Linggarjati adalah sarana menuju kemerdekaan Indonesia sepenuhnya.

Sukarnopun berhasil membuat parlemen menerima usulan tersebut pada tanggal 5 Maret 1947 dengan catatan bahwa pemerintah Indonesia benar-benar harus bekerja keras untuk memerdekakan seluruh wilayah Indonesia, bukan hanya Jawa dan Sumatera.


Sumber: https://www.rajanego.co.id/heroes-of-destiny-apk/