Mengenal Pendekatan Situasional dalam Kepemimpinan

Mengenal Pendekatan Situasional dalam Kepemimpinan

Mengenal Pendekatan Situasional dalam Kepemimpinan

Mengenal Pendekatan Situasional dalam Kepemimpinan

Ada beberapa studi kepemimpinan yang menggunakan pendekatan ini.

  1. Teori Kepemimpinan Kontingensi

Teori ini ini kembangkan oleh Fiedler and Chemers tahun 1950. Menurutnya seseorang menjadi pemimpin bukan saja karena faktor kepribadian yang dimiliki, tetapi juga karena berbagai faktor situasi yang saling berhubungan antara pemimpin dengan situasi. Keberhasilan pemimpin bergantung baik pada diri pemimpin maupun pada keadaan organisasi. Menurut Fiedler ada tiga dimensi (faktor) dalam situasi yang mempengaruhi gaya kepemimpinan.

1)      Hubungan antara pemimpin dengan bawahan

Hubungan ini sangat penting bagi pemimpin, karena hal ini menentukan bagaimana pemimpin diterima oleh anak buah.

2)      Struktur tugas

Dimensi ini berhubungan dengan seberapa jauh tugas merupakan pekerjaan rutin atau tidak.

3)      Kekuasaan yang berasal dari organisasi

Dimensi ini menunjukan sampai sejauh man pemimpin mendapat kepatuhan anak buahnya dengan menggunakan kekuasaan yang bersumber dari organisasi.

Berdasarkan tiga dimensi tesebut, Fiedler menentukan dua jenis gaya kepemimpinan dan dua tingkat yang menyenangkan. Pertama, gaya kepemimpinan yang mengutamakan tugas, yaitu ketika pemimpin merasa puas jika tugas bisa dilaksanakan. Kedua, gaya kepemimpinan yang mengutamakan pada hubungan kemanusiaan.

  1. Teori Kepemimpinan Tiga Dimensi

Teori ini dikemukakan oleh Reddin, seorang guru besar Universitas New Brunswick, Canada. Menurutnya ada tiga dimensi yang dapat dipakai untuk menentukan gaya kepemimpinan, yaitu perhatian pada produksi atau tugas, perhatian pada orang, dan dimensi efektivitas. Gaya kepemimpinan Reddin sama dengan jaringan manajemen, memiliki empat gaya dasar kepemimpinan, yaitu integrated, related, separated, dan dedicated. Gaya kepemimpinan tersebut selanjutnya dikelompokan ke dalam gaya efektif dan tidak efektif sebagai berikut.

1)      Gaya Efektif

  1. a)Executif; gaya ini menunjukkan adanya perhatian baik kepada tugas maupun kepada hubungan kerja dalam kelompok. Pemimpin berusaha memotivasi anggota dan menetapkan standar kerja yang tinggi serta mau mengerti perbedaan individu, dan menempatkan individu sebagai manusia.
  2. b)Developer; gaya ini memberikan perhatian yang cukup tinggi terhadap hubungan kerja dalam kelompok dan perhatian minimum terhadap tugas pekerjaan. Pemimpin sangat memperhatikan pengembangan individu.
  3. c)Benevolent Authocrat; gaya ini memberikan perhatian yang tinggi terhadap tugas dan rendah dalam hubungan kerja. Pemimpin mengetahui secara tepet apa yang ia inginkan dan bagaimna memperoleh yang diinginkan tersebut tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain.
  4. d)Birokrat; gaya ini memberikan perhatian yang rendah terhadap tugas maupun terhadap hubungan. Pemimpin menerima setiap peraturan dan berusaha memeliharanya dan melaksanakannya.

2)      Gaya yang tidak Efektif

  1. a)Compromiser; gaya ini memberi perhatian yang tinggi pada tugas maupun pada hubungan kerja. Pemimpin hanya membuat keputusan yang tidak efektif dan sering menemui habatan dan masalah.
  2. b)Missionary; gaya ini memberi perhatian yang tinggi pada hubungan kerja dan rendah pada tugas. Pemimpin hanya tertarik pada keharmonisan dan tidak bersedia mengontrol hubungan meskipun tujuan tidak tercapai.
  3. c)Autocrat; gaya ini memberi perhatian yang tinggi pada tugas dan rendah pada hubungan. Pemimpin menetapkan kebijakan dan keputusan sendiri.
  4. d)Deserter; gaya ini memberi erhatianyang rendah pada tugas dan hubungan kerja. Pemimpin hanya mau memberikan dukungan, struktur yang jelas, dan tanggung jawab hanya pada waktu yang dibutuhkan.
  5. Teori Kepemimpinan Situasional

Teori ini merupakan pengembangan dari model kepemimpinan tiga dimensi, yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor, yaitu perilaku tugas (Task behavior), perilaku hubungan (Relationship behavior), dan kematangan (Maturity). Dari ketiga faktor tersebut, tingkat kematangan anak buah merupakan faktor yang dominan. Karena itu, tekanan utama dari teori ini terletak pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan anak buah. Menurut teori ini gaya kepemimpinan akan efektif jika disesuaikan dengan tingkat kematangan anak buah. Makin matang anak buah, pemimpin harus mengurangi perilaku tugas dan menambah perilaku hubungan.


Baca Artikel Lainnya: