MUHAMMAD SALEH WERDISASTRO

MUHAMMAD SALEH WERDISASTRO

MUHAMMAD SALEH WERDISASTRO

Muhammad Saleh Werdisastro lahir di

Sumenep, Madura, 15 Februari 1908; meninggal di Yogyakarta, 1966 adalah seorang pejuang perintis kemerdekaan yang sepanjang hayatnya mendirikan dan memimpin sekolah PHIS Soemekar Pangabru Sumenep, merintis Muhammadiyah Sumenep, menjadi Ketua Hisbul Wathon (HW) Madura, aktivis Muhammadiyah dan Boedi Oetomo, menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Yogyakarta yang pertama. Serta tercatat sebagai salah satu pemimpin penyerbuan markas Jepang di Kota Baru, yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Kota Baru.

Di samping itu, beliau juga ikut sebagai salah seorang pendiri Universitas Gadjah Mada dan Universitas Surakarta dan menjadi Wakil Walikota Yogyakarta, Residen Kedu, dan Walikota Surakarta untuk dua periode.

Perjalanan Karir

Setelah menamatkan sekolahnya di Hogere Kweekschool (HKS) di Purworejo dan Magelang 15 Mei 1930, Muhammad Saleh diangkat menjadi guru Gouvernements HIS (Hollands Inlandse School), Sekolah Dasar 7 tahun di Rembang, Jawa Tengah. Didorong rasa nasionalismenya yang tinggi, selama bekerja pada Pemerintah Hindia Belanda membuat dirinya tidak bahagia, karena sebenarnya bertentangan dengan kehendak hati nuraninya. Ia tidak ingin mengabdi kepada Pemerintah Kolonial. Setelah bertahan setahun, ia berhenti menjadi guru di HIS dan kembali ke kampung halamannya, Sumenep pada 1931.

Di Sumenep hanya ada satu sekolah HIS milik pemerintah kolonial Belanda khusus untuk anak-anak Belanda, bangsawan, kaum ningrat, anak priyayi atau anak-anak orang kaya. Ada keinginan yang luhur dalam jiwa Muhammad Saleh ingin mengadakan suatu perubahan serta inovasi dalam sistem pendidikan yang selalu mengutamakan anak-anak orang tertentu. Ia menginginkan dunia pendidikan dalam ruang lingkup dan intensitas yang yang sama, tidak ada diskriminasi bagi siapapun yang ingin menuntut ilmu. Ia melihat pendidikan sebagai komponen dasar dalam membangun kekuatan suatu bangsa.

Walaupun harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, dengan tekad bulat, Muhammad Saleh Werdisastro, mendirikan sekolah setaraf HIS yang dapat menampung anak-anak lapisan bawah. Bertempat di Karembangan, Sumenep. HIS Partikelir (PHIS) Sumekar Pangabru dibuka, dipimpin langsung oleh Meneer Muhammad Saleh sendiri sebagai kepala sekolah.

Lahirnya PHIS 31 Agustus 1931 ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Keberadaan PHIS tidak terbatas hanya menuntut ilmu saja, iapun berusaha menanamkan rasa kebangsaan kepada murid-muridnya misalnya melalui lagu-lagu yang mengandung nilai-nilai heroik dan patriotik sehingga sikap yang demikian dianggap tidak memihak kepada pemerintah kolonial, sehingga mendapat teguran langsung dari Residen Madura, karena murid-murid PHIS tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus. Sebagai aksi perlawanan, Muhammad Saleh kemudian menghapus mata pelajaran menyanyi di sekolah PHIS.

Keinginannya untuk menimba ilmu agama secara mendalam selalu menjadi cita-citanya, melalui metode belajar membaca buku berbagai ilmu pengetahuan umum dan agama, juga memperdalam pengetahuan agamanya pada para Kyai Sumenep, bahkan sempat mondok di berbagai pesantren pada saat liburan sekolah, antara lain di Kecamatan Ambunten, Guluk-Guluk dan di Pesantren Kyai Zainal Arifin Terate, Sumenep.

Setelah 10 tahun menyumbangkan tenaga, pikiran dan waktunya di PHIS Sumekar Pangrabu, pada 1 September 1941, M. Saleh menyerahkan jabatan kepala sekolah kepada Meneer Badrul Kamar, seorang pendidik yang dianggap cakap dan mumpuni untuk memimpin sekolah PHIS. Ia sendiri hijrah ke Jogyakarta dan tetap menjadi guru di Gesubsidiceerde Inheemse Mulo Muhammadiyah, yang berlangsung sampai datangnya bala tentara Dai Nippon yang menduduki Indonesia.

Ketika terjadi pembentukan PETA (Pembela Tanah Air) suatu bagian dari kesatuan tentara Jepang, para prajurit sampai komandan, semuanya terdiri dari orang Indonesia. Pihak Jepang mengangkat tokoh-tokoh masyarakat dan agama untuk dijadikan Komandan PETA. Muh. Saleh terpilih menjadi komandan, bersama tokoh Muhammadiyah lainnya seperti Sudirman (kemudian menjadi Panglima Besar TNI setelah Indonesia merdeka), Muljadi Djojomartono (kelak menjadi Menko Kesra), serta tokoh-tokoh lainnya.

Muh. Saleh berhenti menjadi guru, setelah menempuh pendidikan Perwira Militer. Kemudian bertugas sebagai Dai Dancho (Komandan Daidan Batalyon Dai Ni Daidan di Yogyakarta bermarkas di Bantul dan bertanggung jawab atas pertahanan wilayah Yogyakarta bagian tengah (mulai dari puncak Gunung Merapi sampai ke pantai laut selatan). Pada saat itu, Muh. Saleh mendapat berita duka bahwa PHIS Sumekar Pangrabu Sumenep diambil alih oleh Jepang. Dengan derai air mata kesedihan beliau hanya bisa berdoa agar penjajahan Jepang cepat berakhir dari bumi Indonesia. Doa beliau terkabul, pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. PETA dibubarkan dan Muh. Saleh pulang kembali ke Madura. Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah RI membentuk Komite Nasional Indonesia baik di pusat maupun di daerah. Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono IX dan para pemuka masyarakat Yogyakarta mencari calon yang tepat dan mampu untuk menjadi Ketua KNI Yogyakarta. Untuk daerah Yogyakarta, dipimpin langsung oleh Sultan sendiri didampingi Ketua KNI. Secara bulat pilihan jatuh kepada Muhammad Saleh Werdisastro guna memegang tampuk kepemimpinan KNI di Yogyakarta. Sultan langsung mengirim telegram memanggil beliau sebagai anggota KNI Pusat.

Selanjutnya KNI Pusat pada akhirnya dilebur menjadi menjadi DPR dan KNI Daerah menjadi DPRD. Bekas prajurit PETA menjadi perintis perjuangan melucuti senjata tentara Jepang dan merupakan cikal bakal TNI. Pada masa itu tentara Jepang yang berada di Yogyakarta belum mau menyerahkan senjatanya. Muhammad Saleh berusaha mengadakan perundingan dengan tentara Jepang bertempat di Gedung Negara.

Ada kisah yang patut diketahui dalam perundingan ini, yang cukup alot dan berlarut-larut. Rakyat merasa tidak sabar menunggu. Mereka berbondong-bondong mendatangi Gedung Negara dengan semangat perjuangan sambil berteriak ”Pak Saleh keluar!”. Tanpa gentar sedikitpun karena dirinya merasa benar dan merasa berpihak kepada rakyat, dengan sikap kesatria beliau memilih keluar menghadapi rakyat yang sedang emosi seraya berkata ”Ketahuilah Saudara-saudara, saya sedang berunding dengan Jepang, percayalah kalian kepada saya”. Kemudian menghunus keris miliknya dengan suara lantang berteriak di depan massa ”Jika saya mengkhianati saudara-saudara, bunuh saya dengan keris ini”. Rakyat mulai tenang dan membubarkan diri.

Sebagai seorang muslim yang taat, Muh. Saleh selalu menjauhi syirik. Ia tetap menganggap kerisnya sebagai senjata dan benda biasa yang tidak mungkin dapat merubah nasib seseorang. Segala apa yang terjadi adalah kehendak Allah semata. Namun di sisi lain, banyak orang Yogyakarta menganggap keris Pak Saleh tersebut sangat bertuah dan keramat, sehingga beberapa hari kemudian keris yang ditaruh dalam tas kantornya hilang dicuri orang.

Jepang ternyata ngotot tidak mau menyerahkan senjatanya. Dengan semangat patriotisme, rakyat Yogyakarta dipimpin antara lain oleh Muh. Saleh, menyerbu markas Jepang di Kota Baru, yang tercatat dalam sejarah sebagai Pertempuran Kota Baru. Akhirnya Jepang menyerah.


Baca Juga :