Pengertian Qadim dan Hadits

Pengertian Qadim dan Hadits

Bagi kaum teolog Muslim, qadim berarti “sesuatu yang mempunyai wujud tanpa sebab”, sedangkan bagi kaum filosof Muslim, qadim berarti “sesuatu yang kejadiannya dalam keadaan terus menerus tanpa awal dan tanpa akhir”.

Bagi kaum teolog Muslim, hadits mengandung arti “menciptakan dari tiada”, sedangkan bagi kaum filosof Muslim kata itu berarti “mewujudkan dari ada menjadi ada dalam bentuk lain”.

Konsep Qadim dan Hadits berdasarkan Filosof Islam

  1. Al-Kindi

Menurut Al-Kindi, sebagai ciptaan Allah beredar menurut aturan-Nya (sunatullah) tidak qadim, tetapi mempunyai permulaan. Ia diciptakan Allah dari tiada menjadi ada. Pengertian qadim menurut Al-Kindi adalah tidak berpermulaan.

Pendapat Al-Kindi tentang diciptakannya alam dari ketiadaan sejalan dengan pandangan kaum teolog Muslim, tetapi berbeda dengan pendapat para filosof Yunani dan bertentangan dengan pendapat kaum filosof Muslim. Untuk membuktikan adanya Allah, Al-Kindi memajukan argumen tentang baharunya alam. Argumen baharunya alam telah lazim dikenal di kalangan kaum teolog sebelum Al-Kindi. Akan tetapi Al-Kindi mengemukakannya secara filosofis. Ia berangkat dari pertanyaan, apakah mungkin sesuatu menjadi sebab bagi wujud dirinya ? Dengan tegas Al-Kindi menjawab, bahwa itu tidak mungkin karena alam ini

mempunyai permulaan akan berkesudahan. Ini berarti bahwa alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya, yakni Allah.

  1.  Al-Farabi

Dalam membuktikannya adanya Allah Al-Farabi mengemukakan dalil Wajib al-Wujud dan mukmin al-wujud. Menurutnya segala yang ada ini hanya dua kemungkinan dan tidak ada alternatif yang ketiga, yakni Wajib al-Wujud dan mukmin al-wujud.

Adapun yang dimaksud dengan Wajib al-Wujud adalah wujudnya ada dengan sendirinya. Ia adalah wujud yang sempurna dan adanya tanpa sebab dan wujudnya tidak terjadi karena lainnya. Ia ada selamanya dan tidak didahului oleh tiada. Jika wujud ini tidak ada, maka akan timbul kemustahilan karena wujud lain untuk adanya bergantung kepadanya. Wajib al-Wujud inilah yang disebut dengan Allah.

Sementara itu yang dimaksud dengan mukmin al-wujud ialah sesuatu yang sama antara berwujud dan tidaknya. Wujud ini jika diperkirakan tidak wujud, tidak mengakibatkan kemustahilan. Mukmin al-wujud tidak akan berubah menjadi wujud aktual tanpa adanya wujud yang menguatkan dan yang menguatkan adanya itu bukan dirinya, tetapi adalah Wajib al-Wujud (Allah).

Penilaian De Boar ada benarnya ketika ia mengatakan istilah Wajib al-Wujud dan mukmin al-wujud Al-Farabi hanya istilah lain dari al-Qadim dan al-hadis. Mukmin al-wujud Al-Farabi adalah wujud potensial yang pasti menjadi wujud aktual disebabkan terwujudnya yang Wajib al-Wujud. Sementara itu, istilah mukmin menurut kaum teolog Muslim tidak terdapat kaitan keniscayaan wujudnya disebabkan adanya yang Wajib al-Wujud (Allah).

Dengan kata lain, alam semesta diciptakan bukan dari tiada, melainkan dari sesuatu yang ada. Dan hal ini dapat membawa kita pada kesimpulan bahwa alam ini qadim, yakni tidak bermula dalam waktu, bersifat kekal dan tidak hancur.

Sumber: https://carbomark.org/