PERI-LAKU ORGANISASI DI KALANGAN NU

PERI-LAKU ORGANISASI DI KALANGAN NU

PERI-LAKU ORGANISASI DI KALANGAN NU

PERI-LAKU ORGANISASI DI KALANGAN NU

Mengamati konflik internal PKB mutakhir, saya menerima SMS, antara lain dari Acep Zamzami Noor, putra KH Ilyas Ruchyat salah seorang deklarator PKB. Kang Acep tamatan Seni Rupa ITB yang menerima penghargaan internasional dalam penulisan puisi.

Menurutnya, warga NU tidak berbakat menjadi politisi. Mereka berbakat menjadi ulama, seniman, penyair, dan budayawan. Pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Memang betul banyak tokoh NU yang berhasil menjadi ulama besar, berhasil menjadi penyair, seniman didalam bidang hadrah, kaligrafi dan juga seniman didalam bidang dakwah. Banyak pendakwah yang mampu memukau hadirin dalam waktu berjam-jam, padahal dakwah itu dilakukan pada tengah malam.

Tidak benar bahwa tokoh NU tidak berbakat menjadi politisi ulung. Banyak sekali contoh yang dapat dikemukakan. Bahkan dapat dikatakan bahwa NU adalah ormas Islam yang paling banyak menghasilkan politisi ulung ditingkat nasional. Syahwat politik tokoh NU juga lebih tinggi daripada tokoh ormas lain.

Hal itu wajar, karena NU pernah menjadi partai politik (1952-1973) dan menjadi unsur resmi dari suatu partai politik, yaitu Masyumi (1945-1952) dan PPP (1973-1984). Pembinaan kader NU dan badan otonom dibawahnya terasa betul nuansa politiknya. Aktivis dan pimpinan banom ditingkat nasional maupun daerah, seperti Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU/IPPNU, kebanyakan bermuara pada karir politik.

Politisi ulung dari NU, bisa kita sebut nama KHA Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KHA Wahid Hasyim, H Zainul Arifin, KH Masykur, KHM Dahlan, KH Idham Chalid, KHA Syaichu, KH Saifuddin Zuhri, HM Subchan ZE, Gus Dur . Dari Muslimat NU bisa kita sebut Ibu Mahmudah Mawardi, Asmah Syahruni sampai Khofifah. Dari Ansor muncul nama Mr Imron Rosyadi, Yusuf Hasyim sampai Saifullah Yusuf. Dari PMII kita tampilkan nama Mahbub Djunaedi, Zamroni sampaiMuhaimin Iskandar .

Masih banyak lagi nama yang layak kita sebut apalagi di tingkat daerah. Itu adalah bukti nyata bahwa warga dan tokoh NU berbakat dan berambisi menjadi politisi. Pertanyaannya, mengapa banyak terjadi konflik internal di PKB? Konflik internal tidak hanya terjadi di PKB, hanya yang kemudian menajam dan membuat perpecahan memang terutama terjadi PKB.

Mengelola Konflik

Konflik pasti terjadi dimanapun dan kapanpun. Yang perlu dilakukan ialah mengelola konflik itu supaya tidak meningkat dan berujung pada perpecahan. Kalau itu terjadi, siapapun pemenangnya maka yang rugi adalah organisasinya, yang berujung pada penurunan perolehan suara pada pemilu.

Mengelola konflik membutuhkan komunikasi yang baik. Komunikasi itu tidak cukup hanya saling ketemu secara langsung dan menyampaikan uneg-uneg, tetapi juga membutuhkan kesediaan untuk saling memahami dan berkorban. Tidak bisa hanya satu pihak saja yang benar dan lainnya salah. Kepentingan bersama tentu harus diletakkan diatas kepentingan kelompok. Win-win solutionadalah cara yang tepat untuk digunakan dalam penyelesaian konflik.

Pengelolaan konflik membutuhkan sikap rasional dan bukan sikap emosional. Perang mulut terbuka melalui media pasti bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik. Sikap lentur semua pihak dibutuhkan dari pada sikap yang getas. Tidak boleh ada harga mati, harus ada kurangnya walaupun sedikit.

Kalau kita kembali pada pendapat Kang Acep di atas, maka mungkin pendapat yang tepat ialah warga NU tidak terbiasa berorganisasi dengan baik sehingga lebih tepat menjalani karir perseorangan. Itu juga tidak sepenuhnya benar, karena dahulu (1940-an sampai 1960-an) organisasi NU berjalan baik. Pada tahun 1940-an PBNU sudah merintis kerjasama usaha dengan Jepang. Awal tahun 1950-an NU sudah mempunyai percetakan Yamunu yang dirintis oleh KHA Wahid Hasyim dkk. Tetapi sayang akhirnya rintisan itu tidak berlanjut dan berkembang. Aset yang ada juga banyak yang tidak jelas pemanfaatannya dan tidak jelas entah bagaimana akhirnya.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kendall-kylie-apk/