Platform digital makin dilirik sebagai saluran distribusi film

Platform digital makin dilirik sebagai saluran distribusi film

Platform digital makin dilirik sebagai saluran distribusi film

Platform digital berupa layanan Over-The-Top (OTT) semakin dilirik oleh para pembuat film sebagai salah satu saluran untuk mendistribusikan karya mereka, tak terkecuali Kimo Stamboel, sutradara dan produser film “DreadOut.”

“Banyak para produser film Indonesia yang sudah merambah ke sana,

” ujar Kimo dalam temu media sebelum Gala Premier “DreadOut” di Jakarta, Rabu.

Hal ini, menurut Kimo, akan mengurangi risiko kerugian yang bisa saja dihadapi pembuat film.

“Masalah risiko pasti selalu ada, cuman sebagai produser risiko itu diperkecil sekecil-kecilnya, jalur distribusi yang memperkecil risiko itu adalah platform digital,” kata dia.

Lebih lanjut, Kimo melihat pada 2019 akan banyak rumah produksi yang mulai mengubah strategi mereka dengan memperluas distribusi ke saluran platform digital.

Meski begitu, dia tidak menampik bahwa penjualan tiket masih menjadi “kue” yang dituju para pembuat film.

“Di 2019 kayaknya kebanyakan filmmaker di Indonesia sudah mulai approach-nya seperti itu, karena dari segi investasi lumayan aman, bisa-bisa balik modal duluan sebelum filmnya tayang,” kata Kimo.

“Bioskop tetap akan merajai karena orang kan experience nya berbeda kalau nonton

di bioskop sama nonton di tv,” sambung dia.

Tren ini menurut Kimo juga sejalan dengan jumlah OTT yang mulai banyak bermunculan di Indonesia — Hooq, Viu, Iflix, Catcthplay bahkan Netflix yang berasal dari Amerika — yang juga diiringi dengan pertumbuhan penonton streaming.

Kimo mengungkapkan bahwa penjajakan dengan platform digital

dapat dilakukan sebelum film dirilis. “Maksudnya bukan berarti kita rilis ke platfrom tersebut, kita kasih film ke distributor terus distributor melihat, mereview film tersebut,” ujar dia.

 

sumber :

https://www.kakakpintar.id/seva-mobil-bekas/