Sejarah Lisan Adalah

Sejarah Lisan Adalah

Sejarah Lisan Adalah

Sejarah Lisan Adalah

 

Pengertian Sejarah Lisan

Sejarah lisan dalam pengertian umum adalah suatu usaha pengumpulan data informasi dan keterangan tentang masa lampau dari seorang tokoh atau pelaku sejarah yang diperoleh melalui wawancara. Namun, ada beberapa pengertian lain yang mungkin harus dipahami walaupun sebenarnya esensi antara pengertian yang satu dengan lainnya tidaklah jauh berbeda. William Moss menyatakan sejarah lisan adalah perekaman dari kenang-kenangan yang dikemukakan oleh informan berdasarkan pengetahuan langsung.

Menguatkan pendapat tersebut, Willa K Baum menyatakan sejarah lisan merupakan usaha merekam kenangan yang dapat disampaikan oleh pembicara sebagai pengetahuan tangan pertama. Sedangkan Oral History Society mengemukakan sejarah lisan adalah perekaman kenangan seseorang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun, seperti yang sudah dikemukakan di atas, yang penting adalah esensi dari sejarah lisan, bukan cara menghafal antara pengertian yang satu dengan lainnya.

Namun, perlu diketahui bahwa ada hal-hal tertentu yang perlu diketahui dan dipahami bahwa peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau, belum tentu dapat dikatakan peristiwa sejarah. Ada tiga alasan yang mendasari hal itu.

  1. Sebagian dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau bukanlah sejarah, melainkan prasejarah, yang dalam pembagian akademis termasuk dalam kajian arkeologi dan antropologi.
  2. Tidak semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau meninggalkan bukti-bukti tertulis sehingga dapat dikatakan semakin tua zaman sejarah yang diselidiki, semakin sedikit kemungkinan peninggalan bukti-bukti tertulis yang dapat ditemukan. Sebaliknya, semakin muda atau dekat zaman sejarah, semakin banyak kemungkinan sumber-sumber sejarah yang diketemukan.
  3. Tidak semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau dapat dikatakan sejarah. Banyak peristiwa yang mengalir begitu tanpa ada kesan yang menonjol atau berpengaruh dalam diri. Oleh karena sejarah adalah suatu studi yang ilmiah, tidak lebih dan tidak kurang dan diceritakan terbuka serta apa adanya, berdasarkan fakta dan data yang ada

.

Wawancara sejarah lisan bukan dialog walaupun dalam perjalanan

Wawancara tersebut pasti ada tanya jawab. Seorang pewawancara akan bertanya seringkas mungkin kepada pengisah dan diharapkan pengisah akan menjawab secara detail dan terperinci. Bahkan kadang-kadang dari jawaban tersebut ke luar kenangan yang mungkin belum pernah disampaikannya kepada orang lain. Akan tetapi, kalau dialog atau pertanyaannya mungkin akan panjang dan jawaban yang diterima sangat pendek. Kadang-kadang dialog tersebut akan bersahutan antara penanya dan penjawab. Jawaban yang disampaikannya pun akan berkisar antara ya atau tidak.

 

Di sinilah perlu dibedakan antara wawancara sejarah lisan dengan dialog

Jurnalistik, folklore, gosip atau rumor. Hasil wawancara sejarah lisan diharapkan dapat dipergunakan oleh pada masa yang akan datang oleh para peneliti. Oleh karena itu, ruang lingkup wawancara sejarah lisan harus lebih luas daripada yang dibutuhkan untuk pemakaian langsung. Sebaliknya, jurnalistik akan dipakai pada saat ini dan jawaban yang disampaikan oleh narasumber penuh dengan analisis dan pengamatan, sedangkan sejarah lisan bercerita apa adanya sesuai dengan peristiwa yang pernah dialaminya pada masa lampau.

 

Wawancara sejarah lisan dapat dilakukan lebih dari satu orang pengisah

yang disebut wawancara sejarah lisan secara simultan. Pertanyaan dapat diajukan pewawancara kepada dua, tiga atau lebih sekaligus dalam satu ruangan. Hal ini biasanya dilakukan apabila antara pengisah yang satu dengan lainnya pernah mengalami suatu peristiwa yang sama, misalnya dalam suatu perjuangan, rumah tangga, satu kantor atau lainnya. Wawancara, seperti dilakukan dengan maksud agar jawaban yang disampaikan oleh pengisah yang satu apabila kurang lengkap atau terlupa, dapat ditambahkan oleh pengisah yang lain sehingga kumpulan jawaban itu akan membuka keseluruhan peristiwa yang pernah dialaminya secara lengkap dan detail.

Sebenarnya tujuan dilakukannya wawancara sejarah lisan adalah untuk mengisi gap atau kekosongan sumber-sumber tertulis. Bahkan mungkin sama sekali sumber tertulisnya tidak ada. Di samping itu, untuk menyelamatkan informasi dari para pelaku atau pengisah yang mempunyai pengalaman yang unik dan menarik dalam cakupan nasional sebelum lupa atau meninggal dunia.

Penyelamatan informasi ini biasanya dilakukan terhadap para tokoh atau pelaku sejarah yang kurang berminat untuk menulis, padahal dia mempunyai setumpuk pengalaman yang unik dan menarik, yang harus diselamatkan dan agar orang lainnya dapat mengetahuinya. Hanya saja perlu Anda ketahui bahwa tidak setiap orang dapat diwawancarai. Para pelaku atau pengisah yang mungkin akan diwawancarai adalah mereka yang pernah mengalami sendiri peristiwa yang dianggap punya cakupan nasional dan bukan yang menyaksikan.

Perlu dibedakan antara orang yang mengalami sendiri suatu peristiwa dengan orang yang menyaksikan. Pasti akan diketemukan jawaban yang banyak menyimpang bila pertanyaan disampaikan kepada orang yang menyaksikan, dibanding yang mengalaminya sendiri. Wawancara tidak dapat dilakukan terhadap sebarang orang, hanya para pelaku atau pengisah yang mempunyai pengalaman hidup yang unit dan menarik dalam cakupan nasional. Para pelaku atau pengisah itulah yang dapat diwawancarai dan hasil wawancaranya dapat dijadikan sebagai tambahan dari sumber tertulis.

Salah satu tindakan yang mungkin dapat dilacak kembali tentang terjadinya peristiwa tersebut adalah dengan cara mewawancarai para pelaku sejarah yang pernah merasakan dan mengalaminya sendiri peristiwa itu, bukan cerita dari nenek moyang atau turun temurun. Dengan dilakukannya wawancara tersebut, kemungkinan besar dapat terungkap seluruh kejadian yang pernah menimpa bangsa Indonesia pada masa tersebut.

Perbedaan Wawancara dengan Dialog

Wawancara sejarah lisan tidak sama dengan dialog. Sebab wawancara sejarah lisan bukanlah percakapan dua orang, tetapi yang diutamakan adalah mendapatkan kisah pengalaman dari orang yang sedang diwawancarainya. Oleh karena itu, komentar dari pewawancara hanya terbatas pada pertanyaan-pertanyaan singkat untuk mengarahkan jalannya wawancara, sedangkan dialog lebih menekankan pada percakapan antara dua orang yang kadangkala tidak memerlukan untuk mendapatkan kisah pengalaman dari orang lain. Dialog tidak terbatas pada satu topik saja. Namun, berbagai topik dapat dibicarakan dalam dialog itu.

Pewawancara harus membuat pertanyaan yang pelakunya akan menjawab dengan banyak informasi yang diketahui berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Pelaku harus mengisahkan dan banyak bicara sehingga tidak hanya mengangguk atau menggelengkan kepala saja, sedangkan dialog seperti yang pernah disiarkan oleh beberapa stasiun televisi, informasi yang disampaikan oleh narasumber kepada publik bukan pengalaman pribadinya, tetapi lebih banyak kepada hasil pengamatan suatu peristiwa yang pernah disaksikannya. Pembicaraan-pembicaraan yang disampaikan dalam dialog terkesan lebih banyak saling berargumentasi untuk menunjukkan kemampuannya berbicara terhadap lawan bicaranya.

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan wawancara dengan dialog adalah sebagai berikut.

  1. Pewawancara dan pelaku biasanya belum saling mengenal, Sedangkan dialog narasumbernya sudah dikenal sebelumnya.
  2. Pewawancara adalah pihak yang terus-menerus bertanya, sedangkan pelaku adalah pihak yang selalu menjawab pertanyaan tersebut.
  3. Urutan pertanyaan yang diajukan sudah ditentukan atau dirumuskan sebelum wawancara berlangsung, sedangkan dialog pembicaraan yang ke luar mengalir begitu saja sesuai dengan tema yang dibicarakannya.

.

Sekali lagi, wawancara sejarah lisan dengan dialog sangatlah berbeda. Wawancara lebih menekankan pada pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mendapatkan kisah pengalaman dari orang yang sedang diwawancarainya. Sementara itu, dialog lebih menekankan pada percakapan antara dua orang yang tidak memerlukan untuk mendapatkan kisah pengalaman dari orang lain dan kadangkala banyak topik yang dibicarakannya. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/