Sosok Wanita Tangguh di Balik Google Indonesia

3 Sosok Wanita Tangguh di Balik Google Indonesia

Siapa tidak tahu Google? Mungkin mayoritas orang yang pernah memegang telepon selular hafal logo perusahaan teknologi ini.

Dalam bayang-bayang orang, perempuan yang bekerja di bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Teknik dan Matematika (STEM) tentu minim. Ini tidak sepenuhnya benar, minimal di Google Indonesia. Jumlah perempuan dan lelaki yang bekerja di Google Indonesia ternyata seimbang.

Tiga perempuan berikut ialah orang yang lumayan besar perannya untuk Google Indonesia. Simak saran mereka untuk wanita yang hendak bekerja di industri teknologi inilah ini.

Veronica Utami, Head of Marketing Google Indonesia
Bergabung dengan Google Indonesia semenjak tahun 2015, ketika ini, sekitar dua tahun terakhir Veronica Utami menjabat sebagai Head of Marketing Google Indonesia. Veronica memimpin 11 anggota kesebelasan dan mengelola pekerjaan marketing guna produk dan korporasi di Google Indonesia.

Sebelum bergabung dengan Google, Veronica mempunyai 12 tahun empiris bekerja di sekian banyak perusahaan FMCG dan perminyakan. Veronica merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Industri.

“Jangan malas belajar, evolusi di dunia teknologi paling cepat. Bukan melulu harus rajin belajar, kita pun harus mempunyai rasa hendak tahu yang tinggi. Meski di marketing, tapi sebab bekerja di industri teknologi, saya mesti memahami produk teknologi,” ujar perempuan yang tercatat sebagai di antara dari 25 Pemasar Muda Paling Top versi Majalah SWA pada tahun 2009 itu.

Veronica pun permah memenangi Asia Marketing Effectiveness Award di tahun yang sama guna the Pantene 3 Minute Miracle.

Di luar pekerjaannya sebagai marketer, Veronica pun berperan sebagai Brand Advisor guna Indorelawan.org. Sebagai seorang Ibu, memasak bareng kedua putranya adalahsalah satu hiburan favoritnya.

Fibriyani Elastria, Head of Consumer Marketing, Google Indonesia

Fibriyani Elastria ialah seorang marketer senior, yang sudah bekerja di sekian banyak industri dari FMCG, keuangan, dan edukasi sebelum bergabung dengan Google semenjak 2 tahun lalu.

Alumni Institut Teknologi Bandung Jurusan Arsitektur ini kini memimpin kesebelasan Consumer Marketing di Google Indonesia, mengelola semua jajaran portfolio produk dari Search, YouTube, Maps, Play, Duo, Asisten, dll.

Dengan kata lain, Fibri bertanggung jawab guna mengawasi pekerjaan pemasaran guna consumer product dan meyakinkan produk ini bisa dinikmati oleh pemakai Google di Indonesia.

“Terkait marketing, industri apa juga tidak masalah, sekitar kita punya passion utk menggenal perusahaan yang anda tangani, seluruh akan baik baik saja. Jangan fobia untuk mengupayakan bekerja di industri teknologi,” ujar perempuan yang tercatat sebagai Young Marketers to watch 2006 dari majalah SWA.

Catatan prestasi Fibri lainnya ialah pemenang Young Caring Professional Award 2011 oleh Caring Martha Tilaar, dan Top Five of Indonesia Future Business Leader 2012 oleh Majalah SWA.

Fibri pun seorang ibu dari dua anak laki-laki yang tidak jarang kali menjadi prioritasnya meskipun jadwalnya paling padat dan punya tuntutan kegiatan yang tinggi.

Di samping itu, ia pun memiliki passion dalam hiasan interior dan pemberdayaan perempuan. Anda dapat membaca pandangan dan empiris Fibri mengenai kehidupan, cinta, karier dan passion dalam kitab berjudul Stiletto in Action. Buku ini ia selesaikan selama libur hamil anak dua-duanya pada tahun 2013 ketika ia hendak tetap produktif sekitar periode tidak bekerja.

Farida Renata Heyder, Head of SMB Marketing, Google Indonesia

Farida Heyder sudah bergabung dengan Google Indonesia semenjak April 2016 sebagai Head of SMB Marketing.

Farida mempunyai latar belakang edukasi sarjana informatika dari Nanyang Technological University dan finance dari Boston College Wallace E. Carroll Graduate School of Management, serta mempunyai pengalaman sekitar 10 tahun di sekian banyak perusahaan multinasional laksana JP Morgan, McKinsey, dan Hedgeye Risk Management.

Farida memimpin strategi pendekatan pemasaran sekitar di Google maupun di perusahaan-perusahaan sebelumnya.

Berdasarkan keterangan dari Farida, kadang perempuan ragu guna terjun ke dunia teknologi sebab tidak memiliki misal di lingkungan sekitarnya dan tidak pernah menyaksikan sudut pandang bertolak belakang tentang opsi dan membina karier.

“Hilangkan benak dan stigma bahwa dunia teknologi bukan guna wanita. Ada baiknya, seseorang mempunyai role model dalam karier. Dengan menyaksikan mereka, anda akan dapat mendapat perspektif berbeda. Kebetulan ibu saya pun lulusan teknik, jadi industri ini bukan urusan yang mengherankan bagi saya. Tapi saya menyaksikan ini masih terdapat di pikiran tidak sedikit teman perempuan saya. Padahal tidak sedikit perusahaan yang mendorong wanita guna lebih tidak sedikit masuk ke dunia teknik,” ujar ibu dari dua anak kembar yang mempunyai kegemaran traveling ini.

Baca Juga: