STUDI KAWASAN DAN ISLAM DEWASA INI

STUDI KAWASAN DAN ISLAM DEWASA INI

STUDI KAWASAN DAN ISLAM DEWASA INI

 

Islam di Afrika

afmar.co.id – Sejarah Islam di Afrika hampir sama tuanya dengan sejarah agama itu sendiri. Islam mungkin masuk ke Afrika sebelum dimulainya kalender Islam (Hijriah) ketika beberapa pemeluk Islam pergi ke Habasyah (Abessinia) untuk mencari perlindungan dari kejaran kaum Kuraisy. Mungkin orang Afrika yang paling awal masuk Islam adalah Bilal bin Rabah, seorang budak yang dimerdekakan dan menajdi salah satu seorang sahabat Nabi SAW.
Sarana penyebaran Islam di benua ini dilakukan melalui berbagai cara, misalnya ekspansi melalui penaklukan, seperti yang terjadi di Afrika Utara. Setelah Arab menaklukan Afrika Utara pada abad ke-7 dan 8 M, terjadi proses Islamisasi dan Arabisasi di Afrika Utara. Sementara itu, Islam masuk ke afrika bagian selatan melalui para budak Melayu yang dibawa oleh orang Eropa ke wilayah itu. Di Afrika Timur, faktor Arab tampak jelas pada kedatangan dan ekspansi Islam sejak masa-masa awal hingga abad ke-20. Secara umum, penyebaran Islam di Afrika tidak terlepas dari persaingan antara Islam dan Kristen, serta antara Islam dan westernisasi sekuler. Meskipun demikian, Islam tetap berkembang di benua ini. Hampir separuh dari total populasi di Afrika adalah muslim. SUMBER : ENSIKLOPEDIA TEMATIS DUNIA ISLAM

ASIA TIMUR

Penyebaran Islam di Asia Timur paling terlihat di daratan Cina. Dakwah Islam telah menyentuh daratan Cina sejak sekitar 13 abad lalu, khususnya di kalangan orang-orang “Hui”. Karena itu ajaran Islam di Cina pada masa itu sering di sebut dengan “Ajaran Hui” (Hui Jiao). Dewasa ini penduduk Republik Rakyat Cina (RRC) tidak digolongkan berdasarkan agama, melainkan berdasarkan kelompok etnik. Ada 10 kelompok etnik di Cina yang umumnya menganut agama Islam. Kelompok yang paling besar adalah etnik Hui, kemudian Uigur, dan Kazakh. Sisanya adalah etnik Dongxiang, Kirzig, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar. Mereka pada umumnya merupakan muslin Suni bermazhab Hanafi. Sejak berlangsungnya reformasi oleh Deng Xiaoping, kaum muslim Cina yang sebelumnya terisolasi di dalam negeri mulai aktif dalam berbagai kegiatan muslim di seluruh dunia. Asia Tenggara

Islam di Asia Tenggara memiliki sejarah yang cukup panjang. Beberapa negara di kawasan ini, yaitu Malaysia , Indonesia dan Brunei Darussalam merupakan wilayah kosentrasi Islam karena mayoritas penduduknya adalah muslim. Sementara itu, di beberapa negara lainnya di kawasan ini, penduduk ditemukan sebagai kelompok minoritas, seperti di Filipina , Myanmar , Thailand , Singapura, Kamboja , Vietnam dan Laos .
Islam masuk ke wilayah ini lewat jalan damai, yaitu melalui jalur perdagangan yang dimulai pada abad ke-7. Masa itu dapat dikatakan sebagai tahap awal pembentukan komunitas muslim, Islamisasi massal baru terjadi pada abad ke-12 ketika para guru sufi pengembara dari wilayah Arabia masuk ke Asia Tenggara (Nusantara pada saat itu) dan memperkenalkan Islam pada masyarakat lokal serta penguasa. Hasilnya, pada abad ke-13 sampai abad ke-16, mulai muncul kerajaan bercorak Islam. Islam mudah diterima penduduk asli di Asia Tenggara karena agama tersebut telah diterima oleh para pembesar kerajaan, di samping sikap Islam yang mau berasimilasi dengan adat istiadat lokal.
Kemakmuran kerajaan-kerajaan Islam Nusantara dan meningkatnya intensitas pelayaran kapal-kapal melintasi Lautan Hindia membuat semakin banyak orang Islam yang menuntut ilmu ke Arabia , khususnya ke Mekah. Mereka, setelah kembali ke tanah air, berperan penting bagi perkembangan Islam di Asia Tenggara.
Kedatangan kolonialisme Eropa di Asia Tenggara membawa pengaruh bagi perkembangan Islam, baik dari segi ekonomi maupun poltik. Masa itu juga mempengaruhi proses Islamisasi karena masuknya Kristen. Meskipun demikian, dari segia jumlah penganutnya, wilayah Asia Tenggara tetap merupakan wilayah kosentrasi muslim terbesar kedua di benua Asia , setelah Asia Selatan.
Permasalahan yang hingga kini masih muncul, khususnya bagi minoritas muslim di Asia Tenggara, adalah perbenturan antara Islam dan kelompok lain di daerah non Islam, misalnya konflik antara muslim Moro (Filipina) dan pemerintah Filipina.
Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina,” begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.
Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom’ – julukan Cina.
Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar’ dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.
Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.
Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan. Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti ‘agama yang murni’. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran ‘Buddha Ma-hia-wu’ (Nabi Muhammad SAW). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina. Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.
Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M – 618 M).
Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa’ad Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa’ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa kitab suci Alquran.
Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M – kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk membawa ajaran Illahi ke daratan Cina. Konon, Sa’ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys’ Mazars.
Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Memorial di Canton – masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.
Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.
Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut. Orang Bukhara itu lalu menetap di di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias ‘So-Fei Er’. Dia bergelar `bapak’ komunitas Muslim di Cina.
Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.
Baca Juga :