tahapan anak dalam membaca

tahapan anak dalam membaca

Tingkat minat baca di Indonesia tidak mutlak, dalam artian urusan ini masih dapat diperbaiki pada masa mendatang. Hanya saja perlu kemauan keras dari sekian banyak pihak guna memotivasi dan memicu minat membaca kitab pada anak. Persahabatan anak dan kitab dapat ditumbuhkan pada mula kehidupan anak. Berdasarkan keterangan dari para ahli, anak dapat diluncurkan membaca pada umur 6 tahun (SD). Namun, di tahun 1960-an ditambahkan bahwa orang tua bisa mengenalkan menyimak pada anak as early as possible menyaksikan kesiapan mental dan psikologis anak.

Ada tiga langkah anak dalam menyimak yang butuh diketahui :

1. Pre reading period

Di periode ini anak mengenal kitab dan jalan kisah dari apa yang diucapkan oleh orang tua.

2. Beginning reading period

Anak telah mulai menyimak dan memahami jalan kisah dengan menyimak langsung dari buku.

3. Later reading period

Periode penting untuk orang tua guna menanamkan pada anak tentang bacaan yang baik dan nilai-nilai terpuji yang dapat dipungut dari kisah yang dibaca.

Buku yang dibutuhkan untuk masing-masing periode bertolak belakang jenisnya. Pada pre reading period anak-anak bakal tertarik diucapkan dongeng dan menyaksikan gambar dari buku, maka dibutuhkan buku-buku yang lebih tidak sedikit menampilkan gambar ilustrasi menarik untuk anak atau ketika ini tidak sedikit buku yang memperlihatkan ilustrasi 3 dimensi atau pop-up.

Pada beginning reading period, anak mulai memilih sendiri kisah yang disukai. Untuk anak wanita dan laki-laki, ketertarikan terhadap tema bacaan telah mulai tampak berbeda, tetapi memungkinkan pula dua-duanya dapat bertukar buku, ia pun dapat mengisahkan kembali bacaannya pada orang lain.

Later reading period ialah saat penting untuk orang tua guna memberitahu anak tentang latihan baik yang dapat diambil dari kitab yang dibaca. Penanaman nilai moral dan kebijaksanaan lokal dapat ditumbuhkan disini.

Kita bisa mengadopsi teknik meningkatkan minat menyimak anak dari Finlandia yang menempati peringkat satu dalam urusan membaca. Di Finlandia sejak dini anak diluncurkan pada buku, orang tua memahami pentingnya buku untuk nutrisi jiwa, dan saat ada kerabat yang mencetuskan maka maternity gift tidak saja perlengkapan bayi namun pun buku.

Direktur Asosiasi Penerbit Finlandia melafalkan Sebanyak 77% warga Finlandia paling tidak melakukan pembelian satu kitab dalam setahun, 75% orang tua tidak jarang kali membeli kitab untuk diucapkan kepada anak-anaknya. Di samping itu, sekolah di Finlandia sangat menyokong anak bereksplorasi dengan sistem pengajaran memakai metode bermain, berimajinasi, dan self-discovery. Mereka lebih menekankan kolaborasi daripada kompetisi.

Keadaan di Indonesia memang belum sekondusif di Finlandia. Namun, urusan itu bukan halangan untuk orang tua dan guru guna memperbaiki teknik pandang mengenai hubungan anak dan buku, dengan hal-hal kecil laksana di Finlandia, menyerahkan anak kitab ataupun mendongeng sebelum tidur.

Sumber : www.studybahasainggris.com