Tiga Karya Seni Ini Jadi Ikon Pameran Koleksi Istana Kepresidenan

Tiga Karya Seni Ini Jadi Ikon Pameran Koleksi Istana Kepresidenan

Tiga Karya Seni Ini Jadi Ikon Pameran Koleksi Istana Kepresidenan

Tiga Karya Seni Ini Jadi Ikon Pameran Koleksi Istana Kepresidenan

Kemendikbud — Untuk ketiga kalinya, Galeri Nasional Indonesia menjadi rumah bagi seniman Indonesia

untuk memamerkan puluhan karya seni koleksi Istana Kepresidenan. “Indonesia Semangat Dunia” menjadi tema sentral dalam pameran yang diselenggarakan untuk menyambut Asian Games 2018 dan HUT Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia itu. Ada tiga karya seni yang menjadi ikon dalam Pameran Karya Seni Koleksi Istana Kepresidenan 2018, yaitu lukisan “Perkelahian dengan Singa” karya Raden Saleh; Patung Pemanah karya Pematung Hongaria, Strobl; dan lukisan “Memanah” karya Henk Ngantung.

Lukisan “Perkelahian dengan Singa” karya Raden Saleh dikenal juga dengan julukan “Antara Hidup dan Mati”. Tema perjuangan mempertahankan hidup ini beberapa kali diangkat sang seniman dalam lukisan-lukisannya. Raden Saleh wafat sepuluh tahun setelah menyelesaikan lukisan ini, pada 23 April 1880, di Bogor, Jawa Barat. Bersama lukisan “Berburu Banteng II”, lukisan ini dihadiahkan Ratu Belanda, Juliana, kepada Pemerintah Indonesia pada tahun 1970 , satu abad setelah karya ini rampung dilukis Raden Saleh.

Patung Pemanah karya Pematung Hongaria, Zsigmond Kisfaludi Strobl,

biasanya dengan gagah menghiasi halaman depan Istana Negara yang menghadap Jalan Veteran, Jakarta. Patung Pemanah karya Strobl ini telah mendunia sejak pertama kali dibuat pada tahun 1919. Saat Presiden Sukarno berkunjung ke Hongaria pada tahun 1960 dan 1961, ia mengunjungi studio Strobl dan memesan belasan patung, termasuk Patung Pemanah. Dalam pengertian Presiden Sukarno yang memang menyukai dunia seni, Patung Pemanah merupakan lambang kesatriaan bangsa Timur dan Selatan. Patung tersebut kemudian dibawa ke Indonesia dan diletakkan di Istana Kepresidenan di Jakarta, sebelum kemudian berpindah ke Bogor, dan kembali ke Jakarta.

Ikon seni ketiga di Pameran Karya Seni Koleksi Istana Kepresidenan adalah lukisan “Memanah” karya Henk Ngantung. Lukisan ini turut menjadi saksi bisu saat diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno dan Hatta di kediaman Sukarno, di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Lukisan “Memanah” sudah lama berada di beranda kediaman Bung Karno. Menurut Henk Ngantung, lukisan itu mulai dikerjakan pada akhir 1943. Bung Karno sangat menyukai lukisan itu karena bertema orang memanah. Dalam pemahamannya, memanah adalah lambang kesatriaan dan keterampilan yang mengkristal dalam kebudayaan Jawa serta kosmologi wayang. Panah dianggap representasi dari senjata utama bangsa Timur dan Selatan, seperti halnya senapan bagi bangsa Barat.

Pameran Seni Koleksi Istana Kepresidenan dibuka oleh Menteri Koordinator Pembangunan

Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani di Galeri Nasional Indonesia, Jumat (3/8/2018). Menko PMK berharap pameran ini dapat menjadi tempat ikon wisata kesenian dan kebudayaan bagi peserta dan pengunjung Asian Games 2018. “Biasanya salah satu tempat yang ingin didatangi wisatawan asing adalah museum,” katanya saat pembukaan pameran.

Berbeda dari dua tahun sebelumnya yang hanya memamerkan lukisan, dalam pameran tahun 2018 ini disuguhkan sebanyak 45 karya lukisan, patung dan seni kriya, hasil karya 34 seniman Indonesia dan mancanegara. Nama-nama seniman besar yang turut andil dalam pameran tersebut antara lain Basoeki Abdullah, Raden Saleh, Dullah, Henk Ngantung, dan Nasjah Jamin. Semua lukisan yang dipamerkan merupakan hasil kurator Amir Sidharta dan Watie Moerany. Subtema yang diangkat dalam pameran ialah perjuangan, keberagaman, kerja sama, kreativitas, mendunia dan masa depan. Subtema ini dianggap selaras dengan tema Asian Games 2018, yakni Energy of Asia, sehingga dapat menjadi gebrakan baru untuk menularkan energi semangat. (Desliana Maulipaksi)

 

Baca Juga :