Transisi Demografis

Transisi Demografis

Pengamatan diberbagai negara menunjukkan pola pertumbuhan penduduk yang hampir sama yang secara umum boleh kita bagi menjadi 4 tahap, masing-masing tahap merupakan hasil interaksi antara tingkat kematian dan tingkat kelahiran.

Tahap 1: Tingkat kelahiran dan kematian yang tinggi.

Pada tahap ini tingkat kematian  dan tingkat kelahiran berada pada tingkat yang tinggi, sehingga pertumbuhan penduduk juga tidak terlalu tinggi.Tentu saja situasinya tidak nyaman karena banyak yang lahir dan banyak pula yang meninggal dalam usia yang relatif muda. Tingkat harapan hidup belum tinggi.

Tahap 2: Penurunan tingkat kematian. Tahap kedua ini ditandai dengan menurunnya tingkat kematian karena perbaikan dibanyak hal (kesehatan, nutrisi, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya), sementara tingkat kelahiran masih tetap tinggi karena kesadaran untuk membatasi kelahiran belum ada, dan hasilnya adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi. Masyarakat mulai merasakan tingkat kehidupan yang lebih baik karena banyak orang bisa menikmati harapan hidup pada tingkat yang lebih tinggi. Tetapi mulai muncul berbagai masalah seperti pengangguran, persebaran penduduk yang cenderung memusat ke kota, serta tingginya beban yang harus ditanggung oleh penduduk angkatan kerja produktif.

Tahap 3: Penurunan tingkat kelahiran. Pada tahap ini tingkat kematian masih terus menurun dan tingkat kelahiran mulai menurun pula, dan hasil akhirnya adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang mulai menurun.

Tahap4: Populasi stasioner. Tingkat kematian dan tingkat kelahiran cenderung seimbang pada tingkat yang rendah. Pertumbuhan penduduk mulai seimbang dalam tingkat yang rendah pula. Masyarakat mulai merasakan bahwa masalah-masalah akibat pertumbuhan penduduk seperti pengangguran, beban tanggungan usia kerja produktif  yang tinggi, serta migrasi desa-kota mulai menghilang.

Keseluruhan proses diatas dinamakan transisi demografis. Proses transisi demografis yang hampir otomatis tersebut membuat beberapa ekonom berfikir bahwa sepertinya tidak diperlukan peran pemerintah untuk menurunkan pertumbuhan penduduk. Tetapi disadari juga bahwa tanpa campur tangan pemerintah, proses tersebut akan memerlukan waktu yang lebih lama.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bentuk intervensi apakah yang paling efektif? Pemerintah bisa menyediakan informasi tentang kotrasespi melalui pendidikan, khususnya bagi para gadis maupun pasangan muda. Pemerintah juga bisa melibatkan swasta (misalnya perusahan rokok atau obat-obatan) untuk ikut menyebarkan alat kontrasepsi ke pelosok desa, karena biasanya mereka sudah mempunyai jaringan penjualan kedaerah-daerah tersebut. Hal ini dimotivasi oleh kenyataan bahwa satu kendala utama bagi pembatasan keluarga adalah kurang tersedianya alat kontrasepsi di pedesaan, sedangkan klinik di pedesaan belum menjangkau seluruh daerah terpencil.

https://haciati.co/