Yahoo dan Line Resmi Melebur, Tangkis Raksasa Teknologi

Yahoo dan Line Resmi Melebur, Tangkis Raksasa Teknologi

Yahoo dan Line Resmi Melebur, Tangkis Raksasa Teknologi

Yahoo dan Line Resmi Melebur, Tangkis Raksasa Teknologi

– Softbank Corp akhirnya resmi mengumumkan rencana peleburan

(merger) anak usahanya, Z Holdings atau sebelumnya bernama Yahoo Jepang dengan Line Corps, perusahaan aplikasi pengiriman pesan instan yang berbasis di Tokyo.

Dikutip dari CNN, merger diperkirakan akan rampung pada Oktober 2020. Nantinya, perusahaan gabungan akan dinamakan Z Holdings. SoftBank sebagai induk usaha Yahoo dan Naver, perusahaan teknologi asal Korea Selatan sebagai induk usaha Line akan memiliki saham masing-masing 50 persen.

Pendiri SoftBank Masaoyshi Son mencoba melakukan merger senilai US$30 miliar itu untuk membangun bisnis teknologi yang dapat bertahan untuk bersaing dengan pemain dunia seperti Google dan Facebook.

Menurut Softbank, alasan utama peleburan usaha ialah perusahaan internet

Jepang itu tertinggal jauh di belakang rekan-rekan mereka dari Amerika Serikat (AS) dan China, dan perlu berekspansi ke negara-negara Asia lain agar tetap kompetitif.

Lihat juga:Bahaya yang Mengintai Kalau Sering ‘Gonta-ganti’ Nomor HP

CEO Z Holdings Kentaro Kawabe dan CEO Line Takeshi Idezawa mengatakan pada konferensi pers bahwa kebangkitan raksasa teknologi global menimbulkan krisis bagi kedua perusahaan.

“Industri ini didominasi oleh ‘pemenang yang mengambil peluang semua struktur’.

Bahkan jika kedua perusahaan terintegrasi, masih akan ada kesenjangan yang luas dengan para pemimpin teknologi global,” kata Idezawa seperti dikutip dari CNN, Selasa (19/11).

“Platform luar negeri sangat kuat, mereka memiliki R&D (riset dan pengembangan) yang kuat juga. Untuk bersaing dengan mereka, kita harus lebih fokus berusaha. Kami sangat percaya AI (artificial intelligent) akan menjadi kuncinya,” kata Kawabe.

SoftBank telah berulang kali berbicara tentang revolusi kecerdasan buatan masa depan, dan telah berinvestasi miliaran dolar di perusahaan yang ia yakini menggunakan AI secara efektif untuk mengganggu industri tradisional, seperti Uber, Didi dan Slack.

 

Sumber :

https://zalala.co.id/